Tidak semua yang banyak bicara punya pengaruh. Sering kali, justru mereka yang paling sedikit bersuara yang paling dihormati. Diam ternyata bukan tanda pasif, tapi strategi halus yang sering disalahpahami. Dalam dunia yang terlalu bising, kemampuan untuk diam bisa menjadi bentuk kekuatan paling elegan. Riset dari University of California menunjukkan bahwa orang yang berbicara lebih sedikit dalam pertemuan justru sering dianggap lebih kompeten dan berwibawa, asalkan ketika mereka berbicara, pesannya jelas dan berbobot. Menariknya, otak manusia lebih mudah mengingat seseorang yang “jarang tapi bermakna” dibanding yang sering terdengar tapi biasa saja. Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa melihat ini dengan mudah. Di kelas, ada mahasiswa yang jarang bicara tapi ketika mengemukakan pendapat, semua menoleh. Di kantor, ada rekan kerja yang tidak ikut semua percakapan, tapi saat memberi ide, suasana langsung hening. Diam bukan berarti tidak berani, kadang justru tanda kamu memilih kualitas ...