PENYAKIT HALUS DALAM JALAN RUHANI
• Apa Saja Penyakit yang Menghalangi Seorang Pejalan untuk Sampai kepada Allah?
Dalam perjalanan ruhani menuju Allah, sering kali yang menghalangi bukanlah jauhnya jarak, tetapi bayangan diri sendiri. Bukan lemahnya langkah, tapi lintasan-lintasan halus yang tersembunyi di balik amal dan ibadah.
Tak jarang seseorang mengira telah dekat, padahal yang direngkuh hanyalah bayangan diri
Penyakit ruhani sangatlah samar. Ia tidak selalu hadir dalam bentuk maksiat lahiriah.
Ia bisa menyusup ke dalam dzikir, menyelinap dalam tangis munajat, berselimut dalam kekhusyukan, bahkan menetes bersama air mata makrifat. Ia muncul sebagai rasa puas diri, sebagai getar halus yang berkata dalam diam:
“Lihat, betapa jauh engkau telah berjalan.”
Tanpa cahaya Muraqabah dan tanpa Isyarah yang dibisikkan lewat lisan para Guru Yang Arif sulit sekali menyadari bahwa langkah itu belum benar-benar menuju-Nya.
• Imam al-Ghazali memberi penegasan:
“Kebinasaan terbesar adalah saat seorang hamba tertipu oleh amalnya, hingga lupa bahwa semuanya adalah karunia, dan mengira cukup dengan amal tanpa rahmat Tuhannya.”
(Ihya’ Ulum al-Din, Kitab Riyadhat al-Nafs)
Semakin besar amal yang tampak, semakin besar pula potensi hijab yang tersembunyi.
Sebab Allah tidak didekati dengan banyaknya amal semata, melainkan dengan kejernihan hati yang tak lagi sibuk menampilkan selain kehendak-Nya.
Yang dituju bukan amal itu sendiri, melainkan kehadiran-Nya yang halus, yang hanya dapat dirasakan oleh qalbu yang dibebaskan dari bayangan diri.
•••••
• Apa Saja Penyakit Ruhani yang Menghalangi Cahaya Hati?
Tak semua penyakit ruhani tampak sebagai dosa besar. Kadang ia hanya kabut tipis yang menempel pada amal, lalu mengaburkan beningnya cermin qalbu.
Beberapa penyakit yang sering menyelinap diam-diam dalam perjalanan ruhani diantaranya yaitu:
° Ujub (العُجْب):
Ketika amal menjadi cermin yang memantulkan bayangan diri, bukan Nur Ilahi.
° Riyaa’ (الرِّياء):
Saat amal yang lahir demi Allah, diam-diam berharap disaksikan makhluk.
• Sum’ah (السمعة) :
Ingin dikenal dan didengar kehebatannya dalam amal atau ilmu. Bisa muncul lewat cerita spiritual yang diniatkan untuk dipuji.
° Ghurur (الغرور):
Tertipu oleh amal. Merasa telah sampai, padahal masih berputar di sekitar ego.
° Kibr (الكبر):
Perasaan halus bahwa diri lebih dari yang lain, meski diselimuti pakaian tawadhu’.
° Hasad (الحسد):
Gelisah melihat orang lain memperoleh Anugerah, seakan lupa bahwa pembagian adalah hak-Nya.
° Takabbur (التكبُّر) :
Merasa Lebih Tinggi Merasa lebih baik dari orang lain karena ibadah, ilmu, atau akhlaknya. Kesombongan ruhani, seperti merasa lebih suci, lebih dekat kepada Allah, lebih paham hakikat, lebih “Murni” dari yang lain.
° Hubb al-Jah wa al-Maal (حب الجاه والمال): Kecintaan tersembunyi pada sanjungan dan rasa aman dari dunia.
° Tama’ (الطمع):
Ketidakcukupan yang tak kunjung reda, meski dalam balutan amal dan ibadah.
•••••
• Bagaimana Rasa Ujub dan Riyaa’ Muncul dalam Jiwa?
Ujub hadir saat hati mengira bahwa amal adalah buah usaha pribadi. Ia lupa bahwa taufiq hanyalah anugerah. Bahkan dalam munajatnya, "aku" mulai tumbuh Merasa telah suci, merasa telah lebih.
• Imam Junaid al-Baghdadi Menegaskan:
"Ujub adalah ketika engkau melihat dirimu sendiri, dan melupakan Dzat yang telah memberimu kebaikan."
“Riya’ adalah memalingkan pandangan kepada makhluk saat beribadah.”
Maka seseorang bisa tampak khusyuk di luar, namun di dalamnya terselip harapan agar dilihat sebagai kekasih Allah.
Sebagaimana isyarah yang tersampaikan dari jiwa-jiwa yang dibeningkan oleh muraqabah:
"Selama engkau masih ingin dilihat, engkau belum melihat. Selama engkau ingin dihargai, engkau belum menghamba."
Riya’ seperti bayangan: Ia selalu muncul selama cahaya diarahkan ke diri sendiri, bukan ke Allah.
• Imam al-Ghazali memperingatkan:
"Riya’ itu akar dari kemunafikan, dan ia menghancurkan amal sebagaimana api membakar kayu kering."
(Ihya’ Ulumiddin)
•••••
• Bagaimana Sum‘ah Menyelinap dalam Amal?
Pernahkah engkau bersujud dengan niat menghadap al-Haqq, namun ruhmu mencuri harap agar amalmu terdengar oleh para pencari dunia
Itulah Sum‘ah maradh khafiyy, penyakit batin yang tersembunyi, tumbuh dari keinginan halus untuk didengar oleh selain Allah.
Ia tidak menampakkan diri dalam dzahir,
namun bersembunyi di balik niat,
menyusup di antara dzikir dan keheningan.
Ia tak berteriak: “Lihat aku!”
melainkan berbisik lirih:
Sebarkan namaku di antara mereka.
Ia seakan meletakkan amal di mihrab keikhlasan, namun menyelipkan secarik niat tersembunyi:
Semoga mereka tahu maqam-ku di sisi-Nya.
• Imam al-Harawi menyebutkan:
"Bencana ikhlas dari balik tabir yang tak terlihat."
Sum‘ah tak memerlukan lisan,
karena ia adalah lintasan dalam sirr
lintasan ruhani yang tak kasat mata.
Di balik diam bisa bersemayam nafs al-khafi
nafsu tersembunyi yang ingin dikenal oleh semesta, meski mengaku menuju Tuhan semata.
Dan di balik pujian kepada Allah,
kadang masih terselip rasa ingin disanjung
sebagai orang yang telah sampai.
•••••
• Apa Itu Ghurur, dan Mengapa Ia Berbahaya?
Tidak semua kegelapan ruhani hadir dalam bentuk dosa besar. Kadang ia datang seperti cahaya, padahal hanyalah fatamorgana. Begitulah ghurur tipuan halus dalam perjalanan menuju Allah.
Ia bukan sekadar ilusi, tapi kerancuan antara yang haq dan yang batil dalam bentuk paling samar.
Ghurur membuat seorang salik merasa telah berjalan jauh, padahal baru melangkah dari gerbang. Ia tertipu oleh rasa cukup terhadap amal, terlena oleh pujian, terbuai oleh maqam yang belum benar-benar dicapai.
Seakan-akan telah sampai, padahal baru saja berdiri.
• Imam al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din menuliskan:
"Ghurur adalah merasa aman dari makar Allah, dan merasa cukup dengan amal, padahal belum tentu amal itu diterima."
Ini bukan hanya soal sombong. Ghurur lebih dalam dari itu. Ia menjelma dalam kepuasan palsu yang membuat hati berhenti mencari, berhenti menangis, berhenti merasa butuh.
Ia membuat seorang salik lebih sibuk membandingkan amal, bukan memperbaiki niat.
Ghurur adalah penyakit orang yang sedang di jalan, tapi mengira telah sampai. Dan itu jauh lebih berbahaya daripada orang yang sadar bahwa dirinya masih jauh.
• Sebagaimana dikatakan oleh Imam al-Ghazali:
"Seorang yang lalai tetapi tahu bahwa dirinya lalai, lebih dekat kepada Allah daripada orang yang beramal tapi tertipu oleh amalnya."
Karena yang pertama masih punya peluang menangis, sedang yang kedua telah kering airmatanya oleh rasa puas diri.
•••••
• Apa yang Terjadi Saat Hasad dan Kibr Menyelinap?
Hasad tidak lahir dari kekurangan, tapi dari sempitnya hati menerima ketetapan Ilahi.
Ia lupa bahwa setiap fajar punya tempat dan waktunya masing-masing.
• Imam al-Ghazali Mengungkapkan:
“Orang yang hasad takkan tenang selama melihat nikmat pada selain dirinya. Ia menyiksa dirinya sendiri.”
Salik yang hasad sejatinya sedang menolak keputusan Sang Maha Bijaksana.
Adapun kibr, tak selalu meledak dalam kata-kata. Kadang hadir dalam diam saat menolak kebaikan hanya karena datang dari yang dianggap ‘biasa’.
• Sahl at-Tustari mengingatkan:
“Bisa jadi, hikmah paling dalam datang dari lisan yang paling tak kau duga. Maka jangan remehkan siapa pun.”
•••••
• Benarkah takabbur hanya milik orang yang meninggikan suara dan merendahkan sesama?
Ataukah ia bisa bersembunyi dalam diam, dalam hati yang tak mau merunduk?
Takabbur bukan sekadar ucapan pongah, tapi penolakan halus terhadap kebenaran yang datang dari arah yang tak disukai. Ia hadir saat seseorang menutup diri dari pelajaran, hanya karena pelakunya dianggap "lebih rendah".
Kadang ia menyelinap dalam amal, saat hati merasa lebih tahu bagaimana Allah seharusnya menata hidup. Itulah bentuk kesombongan yang paling samar: merasa mengerti kehendak Tuhan.
“Tak semua yang tampak biasa itu kosong. Kadang yang diam justru menyimpan rahasia yang kau cari dalam riuh zikir yang kau lantunkan.”
Hati yang congkak sulit menerima cermin.
Ia ingin memantulkan cahaya, tapi enggan dibersihkan terlebih dahulu.
• Imam al-Junaid berkata:
"Orang yang sombong tak akan pernah sampai kepada pengenalan terhadap Allah."
Karena makrifat hanya dianugerahkan kepada jiwa yang tunduk, bukan kepada hati yang merasa telah tiba.
•••••
• Apa yang Terjadi Saat Hubb al-Jah dan Hubb al-Maal Menyusup Diam-diam?
Hubb al-Jah membuat salik ingin dikenang sebagai orang suci. Ia tampil sederhana, tapi berharap disanjung dalam diam.
Hubb al-Maal membuat hati hanya merasa aman jika dunia menggenggamnya. Padahal rasa cukup tak datang dari banyaknya benda, melainkan dari lapangnya jiwa.
• Imam al-Ghazali Mengemukakan:
“Orang yang mencintai kedudukan akan sulit menerima kebenaran dari orang lain, dan orang yang mencintai harta akan sulit ikhlas dalam amal.”
Ketika dunia mulai menghuni hati, nurani perlahan bisu. Dan jika ketenangan bergantung pada dunia, ruhani pun terbelenggu.
• Dzu al-Nun al-Mishri berkata:
“Tak ada yang lebih menghijabmu dari Allah selain dua hal: Keinginan dipuji dan rasa aman karena dunia.”
•••••
• Bagaimana Tama’ Bisa Menyandera Ruhani?
Tama’ tak selalu berupa kerakusan dunia yang mencolok. Ia bisa tersembunyi di balik amal: Ingin dikenal, Ingin dianggap,
Ingin dipuji walau berselimut ibadah.
- Syekh Abu Yazid al-Busthami Menjelaskan:
“Orang yang rakus takkan mencium bau keikhlasan. Karena ia selalu memandang ke depan, lupa memandang ke dalam.”
Tama’ mencabut kefakiran ruhani. Padahal kefakiran adalah gerbang menuju makrifat.
Imam Junaid menegaskan kembali :
“Tama’ adalah penyakit yang mencabut kemiskinan ruhani. Dan tanpa kefakiran, tak ada jalan ke hadirat-Nya.”
•••••
• Bagaimana Cara Membersihkannya?
Membersihkan penyakit ruhani bukan sekadar menjauhi maksiat lahiriah, tetapi menempuh jalan panjang mujahadah berperang dalam sunyi melawan bisikan-bisikan halus nafsu yang menyamar dalam nama kebaikan.
Dan tak ada mujahadah yang lebih berat daripada melawan rasa cukup terhadap amal sendiri.
Muraqabah menjadi lentera dalam kegelapan ini: Kesadaran mendalam bahwa Allah selalu menyaksikan, bahkan sebelum niat itu tumbuh.
Dengan! Muraqabah, seseorang belajar untuk jujur kepada hatinya sendiri hingga tahu bahwa banyak amal tak lebih dari bentuk kepentingan diri yang tersembunyi.
Ilmu dan amal bisa menjadi kendaraan, namun tanpa kejujuran qalbu, keduanya dapat berubah menjadi tirai yang menutupi makna ilahiyah dari pandangan batin.
• Dzu al-Nun al-Mishri berkata:
“Orang yang paling mengenal Allah adalah yang paling keras dalam mujahadah terhadap dirinya.”
Karena mengenal Allah berarti terus-menerus menyadari kelemahan diri, dan dari kesadaran itulah keikhlasan dilahirkan.
Cermin ruhani tak memantulkan cahaya, selama masih ada debu keakuan.
Hanya dengan mujahadah dan air mata penyesalan, ia kembali jernih untuk menerima pancaran nur-Nya.
•••••
Apa Tanda Ruhani Seorang Pejalan Mulai Sehat?
Salah satu tandanya adalah ketika hati tidak lagi sibuk mencela orang lain, melainkan lebih sibuk membersihkan diri sendiri.
Ketika sepi tak lagi dirasakan sebagai kesepian, tapi sebagai tempat terbaik untuk bercermin.
Ketika amal tak lagi diceritakan, apalagi diingat-ingat karena yang lebih penting bukan siapa yang tahu, tetapi siapa yang menerima.
Tanda lainnya adalah ketika hati mulai merasa cukup hanya dengan pandangan Allah, dan tidak lagi gelisah terhadap penilaian makhluk.
• Abu Hafs an-Naysaburi Mengatakatan:
“Seorang arif adalah yang lupa pada amalnya, dan hanya sibuk memikirkan pandangan Allah atasnya.”
Ruhani yang sehat tidak merasa telah sampai, tapi terus menangis karena merasa belum benar-benar berjalan.
•••••
Apa yang paling berbahaya bagi seorang salik di jalan spiritual?
Apakah dosa besar yang nyata, atau justru sesuatu yang lebih halus, lebih tersembunyi, dan lebih sulit dikenali?
Yang paling menghalangi seorang salik bukanlah dosa yang terang, tapi penyakit ruhani yang samar yang tak terasa, tak tampak, dan tak dianggap.
Ia tersembunyi di balik amal yang tampak suci, bersembunyi dalam lintasan niat, menyelinap dalam rindu untuk disebut ‘kekasih Allah’.
Dan seringkali, seorang salik tidak menyadari penyakit itu sendiri, hingga datang isyarah lembut dari seorang Mursyid, atau Kritikan halus dari lisan yang telah dibeningkan oleh cahaya-Nya.
Sebab cahaya tidak selalu turun dari langit kadang ia menyala dari pandangan seorang wali yang mengasihi dengan cara menelanjangi penyakitmu, agar engkau sembuh.
Doa para murid ruhani:
“Ya Allah, jangan biarkan aku tenggelam dalam bayangan diriku sendiri. Kirimkan padaku orang-orang pilihan-Mu, yang mampu menunjukkan kegelapan yang bahkan tak kulihat.”
وَاللهُ أعلَمُ بِالصَّواب.
Wallahu a'lam bishawab.
•••••
Komentar