Dalam pandangan Islam, perasaan seolah-olah orang lain mendengar atau mengetahui suara hati/isi pikiran kita umumnya dikategorikan sebagai gangguan waswas (bisikan setan) atau penyakit hati (kecemasan berlebih), bukan sebuah kemampuan supranatural.
Berikut adalah beberapa poin penting menurut perspektif Islam mengenai fenomena ini:
Hanya Allah yang Tahu Isi Hati: Keyakinan dasar dalam Islam adalah bahwa manusia tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui isi hati orang lain. Allah SWT berfirman dalam Qur’an (3:29 dan 67:13) bahwa Dialah yang mengetahui segala rahasia hati.
Gangguan Waswas (Setan): Perasaan bahwa orang lain tahu isi hati, terutama jika hal itu membuat takut, gelisah, atau curiga, adalah salah satu tipu daya setan (waswasah) untuk merusak kedamaian jiwa dan membuat seseorang tidak tenang.
Bentuk Ujian/Cemas: Jika perasaan ini menimbulkan ketakutan berlebih, ini dikategorikan sebagai ujian atau penyakit waswas. Dalam Islam, hal ini perlu diatasi dengan memohon perlindungan kepada Allah (ta'awudz).
Bukan Telepati: Islam tidak mengakui telepati atau kemampuan manusia biasa membaca pikiran manusia lainnya. Anggapan bahwa jin atau manusia dapat mengetahui pikiran secara menyeluruh adalah keliru.
Cara Mengatasi Menurut Islam:
Membaca Ta’awudz dan Surat An-Nas/Al-Falaq: Berlindung kepada Allah dari bisikan setan.
Dzikir dan Istighfar: Memperbanyak dzikir untuk menenangkan hati dan mengusir setan.
Mengabaikan Perasaan Tersebut: Tidak perlu mencari tahu asal suara atau perasaan tersebut. Fokuslah pada aktivitas sehari-hari.
Husnudzon (Berprasangka Baik): Jangan memelihara kecurigaan bahwa orang lain berniat jahat atau mengawasi isi hati kita.
Jika perasaan ini mengganggu aktivitas sehari-hari secara ekstrim, disarankan untuk melakukan ruqyah mandiri dan berkonsultasi dengan ahli psikologi/psikiater, karena bisa jadi ini berkaitan dengan kecemasan klinis (anxiety).
Komentar