🌿 MAMA KUDANG (KH. Muhammad Soedja’i) 🌿
Ulama Kharismatik Tatar Sunda • Tokoh Islam Priangan • Pendiri Pesantren Kudang
Di antara jejak panjang sejarah Islam di Tanah Sunda, nama Mama Kudang—KH. Muhammad Soedja’i—menempati posisi yang sangat istimewa. Bagi masyarakat Tasikmalaya dan Priangan Timur, beliau bukan sekadar ajengan, tetapi guru umat, pemersatu ulama, dan tonggak berdirinya pendidikan pesantren di wilayah ini.
Meski tidak banyak tercatat dalam literatur populer, pengaruh beliau hidup dalam sanad ilmu, tradisi pesantren, dan ingatan kolektif masyarakat Sunda.
🕊️ Awal Kehidupan & Nasab
Mama Kudang bernama lengkap KH. Muhammad Soedja’i bin KH. Abdurrahman, lahir pada abad ke-19 (diperkirakan sekitar 1835 M), dari pasangan KH. Abdurrahman dan Hj. Siti Layyimah.
Dalam berbagai catatan silsilah ulama Sunda, beliau dikenal sebagai keturunan Rasulullah ﷺ yang bersambung hingga Sunan Gunung Jati Cirebon. Julukan “Mama Kudang” sendiri kemudian menjadi identitas beliau, dikenal luas oleh santri dan masyarakat Tasikmalaya.
📚 Perjuangan Ilmu & Dakwah
Mama Kudang adalah sosok alim, zuhud, dan berwibawa. Keilmuannya tidak hanya dalam fiqh dan tasawuf, tetapi juga dalam membangun kesadaran sosial dan peradaban umat.
Beliau menjadi rujukan para santri dan ajengan dari berbagai daerah. Majelis dan pengajiannya menjadi titik temu ulama-ulama Sunda dalam menghadapi perubahan zaman dan tantangan modernisasi.
🕌 Pendiri Pondok Pesantren Kudang
Warisan terbesar Mama Kudang adalah Pondok Pesantren Kudang, yang berdiri di
📍 Jl. Gudang Pasantren, Panglayungan, Cipedes, Kota Tasikmalaya.
Pesantren ini dikenal sebagai salah satu pesantren tertua di Priangan Timur, berdiri jauh sebelum Indonesia merdeka. Dari sinilah lahir banyak ulama, ajengan, dan tokoh masyarakat yang menyebarkan Islam ke berbagai penjuru Jawa Barat.
📜 Peran Sosial & Sejarah Bangsa
Mama Kudang hidup melewati tiga fase besar sejarah: ▪️ Masa penjajahan Belanda
▪️ Masa pendudukan Jepang
▪️ Awal kemerdekaan Indonesia
Perannya bukan hanya sebagai guru agama, tetapi juga guru bangsa—membentuk karakter, akhlak, dan kesadaran umat. Karena jasa besarnya, berbagai pihak di Tasikmalaya dan Jawa Barat pernah mendorong pengusulan beliau sebagai Pahlawan Nasional.
📖 Guru-Guru Mama Kudang
Dalam perjalanan ilmunya, Mama Kudang berguru kepada banyak ulama besar, di antaranya:
KH. Abdurrahman (ayah beliau)
KH. Abdurrohim
KH. Abdulloh (Mama Cidahu)
KH. Adzro’i
KH. Hasan Mustofa Garut
Sayyid Bakri (Mekkah) dan para ulama Nusantara lainnya.
Inilah yang membentuk keluasan ilmu dan kedalaman spiritual beliau.
🌺 Wafat & Warisan
Mama Kudang wafat pada 10 Dzulhijjah 1961, dalam usia yang sangat panjang (diperkirakan 120–130 tahun). Sebuah umur yang mencerminkan perjalanan hidup penuh ibadah, dakwah, dan pengabdian.
Meski dokumentasi akademis masih terbatas, jejak beliau terus hidup dalam pesantren, tradisi keilmuan, dan penghormatan masyarakat Sunda.
🌄 Penutup
KH. Muhammad Soedja’i (Mama Kudang) bukan hanya bagian dari masa lalu,
tetapi akar yang menumbuhkan masa depan Islam di Tanah Sunda.
Kebesaran sejati tidak lahir dari sorotan dunia,
tetapi dari keikhlasan mengabdi untuk umat dan ilmu.
🕌 Al-Fatihah untuk Mama Kudang.
Semoga Allah SWT menempatkan beliau di derajat tertinggi di sisi-Nya.
📌 Kisah Tanah Sunda
Merawat ingatan, menjaga sanad, menghormati ulama.
#MamaKudang
#KHSoedjai
#UlamaSunda
#UlamaNusantara
#KisahUlama
#SejarahIslamNusantara
#PesantrenKudang
#JejakUlama
#SantriNusantara
#IslamRahmatan
#DakwahIlmiah
#AlHikmahWalMahmuudiyyah
Komentar