"BERHENTILAH MERASA LEBIH SUCI HANYA KARENA KAMU TARAWIH."
Seringkali kita terjebak dalam delusi spiritual: Menganggap mereka yang bekerja di malam Ramadan sebagai pendosa, sementara kita yang di masjid adalah 'kekasih Tuhan'. Padahal, bisa jadi mereka yang bekerja jauh lebih mulia di mata hukum syariat.
"Hierarki Kewajiban: Mengapa Sunnah Sering Membutakan Kita?"
Dalam kacamata fiqh mendalam, Shalat Tarawih adalah Sunnah Muakkadah, namun mencari nafkah yang halal adalah Fardhu (Wajib). Gus Baha mengingatkan: "Jangan memvonis Muslim yang sedang susah." Saat seseorang bekerja keras menghidupi keluarga dan meninggalkan tarawih, ia sedang menjalankan kewajiban utama, bukan mengabaikan Tuhan.
"Sifat 'Kepangeranan': Penyakit Hati Para Ahli Ibadah."
Fenomena psikologis-religius: Saat kita rajin ibadah, muncul keinginan mendesak untuk menghakimi orang lain. Gus Baha menekankan: "Kita ini bukan Tuhan, kita hanya analis." Terkadang, kemarahan kita melihat orang tidak tarawih bukan karena cinta pada agama, melainkan karena hasud (dengki) atau ego karena kita merasa sudah bersusah payah menjadi imam.
"Kesalehan dalam Diam: Belajar dari Kaum Pekerja."
Ada sebuah jalur spiritual bernama Thariqah Malamatiyah. Mereka adalah orang-orang shaleh yang tampak biasa saja, bahkan jarang terlihat melakukan sunnah Qobliyah/Ba’diyah di depan umum. Mengapa? Karena mereka fokus pada Tholabul Halal (mencari harta halal). Di era di mana korupsi dibalut dengan umrah berkali-kali, kejujuran seorang pekerja kasar jauh lebih fundamental dalam Islam.
"Standardisasi Minimalisme yang Menyelamatkan."
Ingat kisah Arab Badui yang bertanya pada Nabi? Ia bersumpah hanya akan shalat 5 waktu dan puasa Ramadan tanpa menambah satu pun sunnah. Respon Nabi? "Aflaha" (Ia beruntung/masuk surga). Islam tidak datang untuk menyulitkan. Menjadikan hal sunnah seolah wajib adalah beban yang justru bisa menjauhkan orang dari agama.
Jika kita dipaksa memilih antara melihat tetangga kita bekerja keras mencari sesuap nasi halal namun melewatkan Tarawih, atau melihat orang kaya beribadah sunnah namun hartanya syubhat, manakah yang lebih kita hargai?
Menurut sudut pandangmu, apakah selama ini kita terlalu sibuk menghakimi 'kulit' ibadah orang lain hingga lupa esensi kewajiban?
Komentar